BANDAR LAMPUNG – Pertumbuhan ekonomi yang tinggi seringkali dikhawatirkan hanya akan menguntungkan segelintir kelompok, namun Provinsi Lampung berhasil mematahkan stigma tersebut. Seiring dengan turunnya angka kemiskinan ke level 9,66 persen, angka ketimpangan pengeluaran atau Gini Ratio di Lampung juga tercatat menurun. Per September 2025, Gini Ratio Lampung berada di posisi 0,287, membaik dari posisi sebelumnya yang sebesar 0,292.
Angka 0,287 menunjukkan bahwa tingkat kesenjangan ekonomi di Lampung berada pada kategori rendah hingga moderat. Penurunan ini didukung oleh perubahan struktur pengeluaran di masyarakat. Berdasarkan data BPS, porsi konsumsi dari 20 persen kelompok masyarakat berpengeluaran tertinggi mengalami penurunan tipis dari 38,82 persen menjadi 38,80 persen. Di sisi lain, kelompok masyarakat menengah dan bawah mulai menunjukkan kontribusi yang lebih besar dalam aktivitas konsumsi daerah.
Ahmad Riswan Nasution menjelaskan bahwa profil kesejahteraan masyarakat Lampung saat ini memberikan gambaran yang sangat positif. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,04 persen yang diraih provinsi ini terbukti bersifat inklusif, di mana manfaat pembangunan mengalir ke berbagai lapisan kelas ekonomi. Penurunan ketimpangan ini sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial dan memastikan bahwa setiap warga Lampung memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
Pemerataan ini juga terlihat dari peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat yang menggeliat, di mana pertumbuhan konsumsi rumah tangga naik 4,89 persen. Hal ini mencerminkan distribusi pendapatan yang lebih adil di tengah-tengah warga. Dengan menyempitnya jurang ketimpangan, Lampung kini memiliki modal yang lebih kuat dalam menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, yang menjadi syarat mutlak bagi keberlanjutan pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.






