Dhandy Dwi Laksono berbicara tentang Ekonomi Biru Gunter Pauli

0
409


“Saya ingin merefleksi bahwa ketika kita lahir kita tidak bisa memilih: jenis kelamin, orang tua, agama, fisik, dan negara,” ujar Dandhy dalam acara kuliah umum di IAIN Metro.

Sebelum hal tersebut diungkapkannya, Ia membukanya dengan kalimat bahwa memakai kaos dan sandal merupakan cara terbaik untuk menunjukkan rasa empati kepada anak-anak penderita kangker, yang tidak menganggap bahwa mereka adalah minority.

Hal itu ia sampaikan karena pada saat yang sama ia memakai kaos dan sandal sebagai identitas. Dhandy adalah seorang jurnalistik dokumenter yang sebelumnya pernah bekerja sebagai jurnalistik di media televisi nasional. Namun, ia mengundurkan diri untuk dapat melihat Indonesia dari kaca mata dirinya sendiri.

Diamerupakan mahasiswa S1 Hukum Internasional di Universitas Padjajaran, namun tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya dan memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis. “Bagi saya kuliah yang sebenarnya adalah di Indonesia. Saya ingin tahu bahwa ketika saya tidak bisa memilih Indonesia pada khususnya, maka setidaknya saya tahu tentang Indonesia secara keseluruhan.”

Mulai dari memilih Indonesia disini adalah bahwa ia tidak bisa memilih dimana ia dilahirkan. Maka ia memutuskan untuk mengetahui Indonesia lebih spesifik dengan kaca matanya, yang tidak ia dapatkan ketika ia masih bekerja di media televisi.

Hari ini, Dhandy merasa bahwa kita tidak berbeda-beda. Hal itu ditunjukkannya dengan memberikan gambaran bahwa desain arsitektur sebuah perkotaan di daerah-daerah, banyak mengacu pada pembangunan di kota-kota, misal Jakarta.

Banyak orang yang lebih suka disamakan dengan orang-orang Jakarta, dari siaran tv, gaya hidup, dan lain-lain dari pada menunjukkan nilai-nilai kedaerahan. “Saya baru tahu bahwa kita berbeda adalah ketika saya singgah pada suatu tempat dan mereka menggunakan bahasa, logat, dan aksen daerah untuk berkomunikasi.”
Namun sayangnya saat ini ribuan banyak bahasa daerah mulai punah. Itu disebabkan oleh tidak banyak bahasa lokal yang menjadi bahan ajar di bangku sekolah. Dan, banyak generasi muda yang mengadopsi bahasa lain dengan meninggalkan bahasa daerahnya.

Kesaksiannya dijelaskan melalui film-film yang dibuatnya yang telah diputar di banyak kota di Indonesia dan juga luar negeri sebagai bahan diskusi. Film-filmnya dibuat dengan berkeliling Indonesia dengan sepeda motor yang dimulai dari Pondok Gede menuju ke arah Timur.

“Jika ada sebuah negara mampu mengalirkan air yang secara langsung dapat diminum manusia maka sebenarnya negara itu adalah primitif. Jika kalian melihat modernitas adalah seperti itu, yang banyak dibangun di kota-kota maju di dunia, maka itu adalah salah. Karena kita, dulu, sudah melakukan hal itu. Sebenarnya, negara kita lebih modern dari negara-negara tersebut karena air yang kita miliki bersama sudah dikomersilkan.”

“Ekonomi yang baik adalah ekonomi yang berbentuk sirkular, yang tidak terputus. Dan, tidak ada makhluk di dunia ini yang menghasilkan sampah, kecuali homo sapien karena tumbuhan, hewan dan alam tidak pernah menghasilkan sampah.”

Kenapa makanan organik lebih mahal? itu karena “sebenarnya kita terjebak pada paradigma yang sesat,” tegas Dhandy.
Ia menjelaskan bahwa anggapan seperti itu karena kerugian atas hutan-hutan, kampung-kampung, alam, terumbu karang, dan manusia yang tergusur dan terkena dampak dalam pembangunan, misal, pembangunan tol, pabrik, perusahaan tambang, dan lain-lain tidak pernah dihitung.

Hal itu merupakan alasan yang kemudian mengakategorikan bahwa hal-hal yang berisafat alamiah lebih mahal. Padahal, mereka tidak pernah menghitung semua variabel sebagai keluaran. Akses jalan, musala, sampah, kerusakan lingkungan dan lain-lain yang rusak merupakan variabel lain yang dibebankan kepada masyarakat, hewan dan alam. Sehingga, mereka tidak menghitung itu semua sebagai beban ekonomi yang harus ditangguung, ungkapnya.

Jika ongkos semua dihitung maka mereka tidak akan pernah memanfaatkan fosil dan batubara, karena biaya yang perlu dikeluarkan lebih mahal dan mereka tidak mungkin menjualnya dengan harga yang sangat murah, tambah Dhandy.

“Tuhan tidak menciptakan hal yang sia-sia, maka jangan ada konsep keluaran sampah. Kita harus berpikir bahwa bagaimana kita hidup tampa memproduksi sampah. Di Sumba, terdapat aktivitas manusia yang mengumpulkan limbah manusia (air seni dan kotoran) untuk diolah sebagai energi untuk menghidupkan kompor.”

Banyak konsep pemahaman yang tunggal digunakan untuk mengambil perhatian orang. Padahal, banyak rahasia-rahasia yang disembunyikan dibelakang kita. Nilai-nilai pembangunan daerah, misalnya, apakah sebanding dengan merelakan hewan-hewan yang mati dan alam yang tidak berproduksi hanya untuk jaringan internet.

“Kesalahan utama yang ada disekitar kita adalah menganggap bahwa mereka butuh, internet, mobil kulkas dan mengorbankan alam sebagai penggantinya. Mereka tidak menganggap bahwa alam pada dasarnya sudah menyediakan kebutuhan apa yang manusia inginkan.”

Terakhir dalam pemaparannya, ia menegasikan bahwa konsep sekolah pada hari ini tidak meuntut anak untukproduktif untuk berpikir. Banyak waktu yang terbuang untuk mempelajari apa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Banyak waktu yang sia-sia untuk mendalami apa yang bukan menjadi keingininannya.
Masyarakat papua, misalnya, pada dasarnya tidak mempunyai konsep waktu karena apa yang mereka tahu adalah waktu dimana hewan buruannya keluar. Lalu, kaum-kaum imigran datang dengan mendirikan perusahan dan menentukan waktu orang-orang lokal yang dipekerjakan.

“Kita boleh menciptakan dunia kita sendiri. Kita boleh memulai sekolah jam 10 karena berdasarkan research anak-anak pada jam tersebut baru mulai produktif dalam berpikir. Di Jerman, orang tua mempunyai hak untuk membuat kurikulum sendiri untuk anak-anaknya karena dunia sekolah tidak menyediakan mata pelajaran yang sesuai. Sehingga, mereka membuat kurikulum sendiri sesuai kebutuhan anak-anaknya.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini