Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Bersama Fakultas Syariah IAIN Metro Gelar Seminar Nasional Optimalisasi Pengelolaan Zakat

0
359

Pada hari Rabu, tanggal 28 November 2017, jam 08.00, IAIN Metro khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta Fakultas Syariah mengadakan sebuah Seminar Nasional bertajuk Optimalisasi Pengelolaan Zakat yang bertempat di Ruang Sidang Fakultas Tarbiyah Lantai III. Pada seminar ini hadir Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Dr. Widhiya Ninsiana, M.Hum, Dekan Fakultas Syariah Husnul Fatarib. Ph.D serta Wakil Direktur Pusat Kajian Strategis BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) sekaligus Dosen Universitas Indonesia yaitu Dr. Mohamad Soleh Nurzaman, menjadi pembicara kunci.

Dalam acara pembukaan, Dekan Fakultas Syariah memberikan sambuttan, bahwasannya Seminar Nasional ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada mahasiswa-i IAIN Metro yang diwakili oleh Fakultas Syariah dan FEBI, tentang bagaimana mengoptimalkan pengelolaan zakat secara produktif agar dapat memberdayakan masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Mohamad Soleh Nurzaman mengungkapkan, Negara Indonesia pernah mengalami krisis Moneter pada tahun 1998 yang disebabkan menggunakan cara konvensional/skema bunga khususnya dalam penyelesaian hutang (Negara Indonesia memiliki hutang yang tiap tahunnya meningkat/bertambah menjadi 6 %, sehingga hutang Indonesia baru akan terlunasi tahun 2070).  Dikarenakan konvensional lebih menekankan teori daripada prakteknya. Oleh karena itu, Negara Indonesia sudah seharusnya memakai sistem ekonomi syariah (khususnya dalam optimalisasi zakat), yang notabene sebahgian besar penduduknya memeluk agama Islam, dan merupakan sistem ekonomi yang dipertimbangkan oleh dunia, bukan hanya di Indonesia.

“Optimalisasi zakat produktif disini zakat bukan untuk  charitytapi untuk produksi, dan zakat sudah seharusnya ada pencatatan/pembukuan yang jelas (seharusnya lembaga zakat tiap akhir tahunnya harus memiliki saldo nol , yang mana ini menandakan bahwa lembaga zakat tersebut sangat efektif), agar zakat dapat terekam dengan baik (karena berbicara zakat, sama saja kita dapat mengetahui kenaikan pendapatan masyarakat se-Indonesia. Sebagai contoh penelitian yang dilakukan oleh Baznas mengambil sampel mustahiq sejumlah 3000, menunjukkan kenaikkan pendapatan sebesar 25% setelah menerima zakat), serta mempunyai strategi yang jelas (strategi zakat harus setara dengan pajak, jadi membayar zakat, bisa mengurangi pajak). Sehingga dengan cara tersebut zakat bukan hanya secara tradisional lagi yaitu dari Muzakki kepada Mustahiq melainkan membuat Mustahiq menjadi Muzakki.”ujarnya.

Sehingga, zakat dapat membantu masyarakat dalam hal  konsumsi dan produksi/sektor riil baik itu pendidikan, tambang, pertanian, perkebunan, dan sebagainya. Olehkarena itu, zakat harus dikemas secara produktif agar bisa memberdayakan masyarakat secara kontinu. Untuk itu, masa depan Ekonomi Islam akan menjadi “gula” (baik bagi gerakan Internasional, kegagalan konvensional, dan gerakan Nasional), dengan atau tanpa keterlibatan kita, Industri butuh konsep yang jelas dan sumber daya, serta Kebijakkan butuh landasan dan dukungan umat/perekonomian umat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini