Vanuatu Berlakukan Larangan, Sampah Popok Sekali Pakai

0
40

Madani-News.com – Negara Vanuatu baru-baru ini mengumumkan tentang larangan popok sekali pakai. Pemerintah rencana akan memberlakukan larangan tersebut akhir tahun ini. Peraturan dibuat untuk mengurangi sampah pelastik.
Menteri Luar Negeri Vanuatu, Ralph Regenvanu, mengumumkan larangan itu di sebuah konferensi di Port Vila, beberapa hari lalu.
Menurutnya, penelitian mengungkapkan jika popok sekali pakai merupakan barang tunggal terbesar limbah rumah tangga di kota besar.
“Menghilangkan penggunaan popok sekali pakai akan mengurangi sampah plastik secara tidak proporsional,” kata Ralp, di akun Twitter.
Larangan penggunaan popok sekali pakai mendapat protes dari para orang tua negara itu. Mereka mengeluh karena kebijakan itu akan mempersulit perempuan, gender pengasuh anak utama dari sekitar 20.000 bayi di pulau itu.
Namun, pemerintah negara dataran rendah itu mengatakan mereka tidak punya pilihan lain. Popok sekali pakai mengandung plastik dan perlu ratusan tahun untuk terurai.
Negara berpenduduk sekitar 250.000 orang, diyakini sebagai negara pertama di dunia yang melarang popok sekali pakai.
Dikutip dari Inhabitat, larangan itu diberlakukan karena tenggelamnya pulau-pulau dataran rendah di Vanuatu akibat polusi plastik dan naiknya permukaan laut.
Popok sekali pakai menimbulkan masalah pada lingkungan karena dilapisi dengan plastik non-biodegradable dan menggunakan bahan kimia natrium poliakrilat sebagai penyerap. Selain itu, proses pembuatan popok berkontribusi terhadap pemanasan global.
Dari The Guardian diketahui bahwa sebuah studi yang dilakukan Commonwealth Litter Programme menunjukkan, hampir 75 persen dari semua sampah plastik di negara ini berasal dari limbah kompos dan popok sekali pakai. Jadi, selain program pembuatan kompos, larangan popok sekali pakai adalah cara yang tepat.
Selain itu, Vanuatu juga dikenal memiliki larangan ketat untuk plastik sekali pakai, termasuk piring, gelas, pengaduk minuman plastik, karton telur, bunga plastik dan wadah makanan. (Red/Rls/Dbs)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini